Thursday, 8 December 2016

MAKALAH METODE PENINGKATAN AQIDAH ISLAM

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “METODE PENINGKATAN
AQIDAH    ISLAM

Makalah ini berisikan tentang informasi  
Pengertian METODE PENINGKATAN AQIDAH       ISLAM atau yang lebih khususnya membahas pengertian aqidah islam,ruang lingkup pembahasan aqidah ,kemahaesaan allah dan lain-lain. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang  METODE PENINGKATAN AQIDAH ISLAM

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah      ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Amin.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang

Segala sesuatu yang Allah SWT ciptakan bukan tanpa sebuah tujuan. Allah SWT menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan sebuah kehidupan di dalamnya, bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Sama halnya dengan Allah SWT menciptakan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak sia-sia, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi untuk mengatur atau mengelola apa yang ada di bumi beserta segala sumber daya yang ada.
Di samping kita sebagai manusia harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang ada, sebagai seorang manusia juga tidak boleh lupa akan kodratnya yakni menyembah sang Pencipta, Allah SWT, oleh karena itu manusia harus mempunyai aqidah yang lurus agar tidak menyimpang dari apa yang diperintahkan Allah SWT.
Penyempurna aqidah yang lurus kepada Alla SWT tidak luput dari aqidah yang benar kepada Malaiakat-Malaikat Allah, Kitab- kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para Rosul-rosul Allah untuk disampaikan kepada kita, para umat manusia.   


1.2     Rumusan Masalah
          1. Mempelajari Ilmu Syar’i
          2. Memahami kalimat tauhid
          3. Memperbanyak Membaca  Al-Qur’an  dan mentadabburynya.
          4. Mentadabury Ciptaan Allah
          5. Membaca kisah-kisah umat terdahulu


1.3     Tujuan Penulisan
          Makalah ini ditulis dengan tujuan agar kita lebih memahami apa itu aqidah secara etimologis dan terminologis, sumber-sumber aqidah,  pengertian aqidah yang ditinjau dari ayat-ayat Al Qur’an, ruang lingkup pembahasan dan manfaat dari aqidah untuk seorang muslim







BAB II
PEMBAHASAN
2.1    KEUTAMAAN ILMU SYAR’I DAN MEMPELAJARINYA
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Allah Ta’ala telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya untuk berilmu dan membekali diri dengannya. Demikian pula Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang suci.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) rahimahullaah menyebutkan lebih dari seratus keutamaan ilmu syar’i. Di buku ini penulis hanya sebutkan sebagian kecil darinya. Di antaranya:
1. Kesaksian Allah Ta’ala Kepada Orang-Orang Yang          Berilmu
Allah Ta’ala berfirman,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [Ali ‘Imran: 18]
Pada ayat di atas Allah Ta’ala meminta orang yang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang sangat agung untuk diberikan kesaksian, yaitu keesaan Allah Ta’ala… Ini menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu.
Selain itu, ayat di atas juga memuat rekomendasi Allah tentang kesucian dan keadilan orang-orang yang berilmu.
Sesungguhnya Allah hanya akan meminta orang-orang yang adil saja untuk memberikan kesaksian. Di antara dalil yang juga menunjukkan hal ini adalah hadits yang masyhur, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ.
“Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap-tiap generasi. Mereka akan memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (yang melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta), dan takwil orang-orang bodoh.”
2. Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat  Derajatnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang yang berilmu dan beriman. Allah Ta’ala berfirman.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujaadilah : 11]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِـهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ.
“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.”
Di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, “Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu.” Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syar’i hingga ia menjadi orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh) tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya hingga ia berdiri.
Orang yang berilmu dan mengamalkannya, maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.
Imam Sufyan bin ‘Uyainah (wafat th. 198 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para Nabi dan ulama.”
Allah pun telah berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam:
نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“…Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” [Yusuf: 76]
Disebutkan bahwa tafsir ayat di atas adalah bahwasanya Kami (Allah) mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki dengan sebab ilmu. Sebagaimana Kami telah mengangkat derajat Yusuf ‘alaihis salaam di atas saudara-saudaranya dengan sebab ilmunya.
Lihatlah apa yang diperoleh oleh Nabi ‘Isa ‘alaihis salaam berupa pengetahuan (ilmu) terhadap Al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dengannyalah Allah Ta’ala mengangkatnya kepada-Nya, mengutamakannya serta memuliakannya. Demikian juga apa yang diperoleh pemimpin anak Adam (yaitu Nabi Muhammad) shallallaahu ‘alaihi wa sallam berupa ilmu yang Allah sebutkan sebagai suatu nikmat dan karunia.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
“… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [An-Nisaa’: 113] [7]
3. Orang Yang Berilmu Adalah Orang-Orang Yang Takut Kepada Allah
Allah mengabarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala, bahkan Allah mengkhususkan mereka di antara manusia dengan rasa takut tersebut. Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“… Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” [Faathir: 28]
Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah itu disebut sebagai ilmu. Dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut sebagai suatu kebodohan.”
Imam Ahmad rahimahullaah berkata, “Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”
Apabila seseorang bertambah ilmunya, maka akan bertambah rasa takut-nya kepada Allah.
4. Ilmu Adalah Nikmat Yang Paling  Agung
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa nikmat dan karunia-Nya atas Rasul-Nya (Nabi Muhammad) shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan menjadikan nikmat yang paling agung adalah diberikannya Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan Allah mengajarkan beliau apa yang belum diketahuinya.
Allah berfirman:
وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
“… Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [An-Nisaa’: 113]
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ…
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur-an) dan yang sepertinya (As-Sunnah) bersamanya…”
5. Faham Dalam Masalah Agama Termasuk Tanda-Tanda Kebaikan
Dalam ash-Shahiihain dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan (wafat th. 78 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.”
Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah, sebagaimana orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia menjadikannya faham dalam masalah agama. Dan barangsiapa yang diberikan pemahaman dalam agama, maka Allah telah menghendaki kebaikan untuknya. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pemahaman (fiqh) adalah ilmu yang mengharuskan adanya amal.
Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya adalah karena ilmu akan menuntunnya kepada ketaqwaan kepada Allah Ta’ala.”
6. Orang Yang Berilmu Dikecualikan Dari Laknat    Allah
Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th. 57 H) radhi-yallaahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ.
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.’”
7. Menuntut Ilmu Dan Mengajarkannya Lebih Utama Daripada Ibadah Sunnah Dan Wajib Kifayah
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَخَيْرُ دِيْنِكُمُ الْوَرَعُ.
“Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik adalah al-wara’ (ketakwaan).”
‘Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Orang yang berilmu lebih besar ganjaran pahalanya daripada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah.”
Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Sungguh, aku mengetahui satu bab ilmu tentang perintah dan larangan lebih aku sukai daripada tujuh puluh kali melakukan jihad di jalan Allah.”
Aku (Ibnul Qayyim) katakan, “Ini -jika shahih- maknanya adalah: lebih aku sukai daripada jihad tanpa ilmu, karena amal tanpa ilmu kerusakannya lebih banyak daripada baiknya.”
Al-Hasan rahimahullaah berkata, “Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud terhadap dunia dan orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.”
Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, “Aku tidak mengetahui satu ibadah pun yang lebih baik daripada mengajarkan ilmu kepada manusia.”
Imam asy-Syafi’i (wafat th. 204 H) rahimahullaah mengatakan, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik setelah berbagai kewajiban syari’at daripada menuntut ilmu syar’i.”
8. Ilmu Adalah Kebaikan Di   Dunia
Mengenai firman Allah Ta’ala,
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia”
Al-Hasan (wafat th. 110 H) rahimahullaah berkata, “Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah.” Dan firman Allah,
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
“Dan kebaikan di akhirat.” [Al-Baqarah: 201]
Al-Hasan rahimahullaah berkata, “Maksudnya adalah           Surga.”
Sesungguhnya kebaikan dunia yang paling agung adalah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, dan ini adalah sebaik-baik tafsir ayat di atas.
Ibnu Wahb (wafat th. 197 H) rahimahullaah berkata, “Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata, ‘Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah Surga.’”
9. Ilmu Adalah Jalan Menuju  Kebahagiaan
Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Shahabat Abu Kabasyah al-Anmari (wafat th. 13 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
… إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ ِللهِ فِيْهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّـيَّـةِ يَقُوْلُ: لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُـمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ ِللهِ فِيْهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَا سَوَاءٌ.
“…Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang: (1) seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung sila-turahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah). (2) Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah). Dan (4) seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.”
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membagi penghuni dunia menjadi empat golongan. Golongan yang terbaik di antara mereka adalah orang yang diberikan ilmu dan harta; ia berbuat baik kepada manusia dan dirinya sendiri dengan ilmu dan hartanya.
10. Menuntut Ilmu Akan Membawa Kepada Kebersihan Hati, Kemuliaannya, Kehidupannya, Dan           Cahayanya
Sesungguhnya hati manusia akan menjadi lebih bersih dan mulia dengan mendapatkan ilmu syar’i dan itulah kesempurnaan diri dan kemuliaannya. Orang yang menuntut ilmu akan bertambah rasa takut dan taqwanya kepada Allah. Hal ini berbeda dengan orang yang disibukkan oleh harta dan dunia, padahal harta tidak membersihkan dirinya, tidak menambah sifat kesempurnaan dirinya, yang ada hatinya akan menjadi tamak, rakus, dan kikir.
Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar segala ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai kesalahan yang menjerumuskan ke Neraka.
Setiap Muslim dan Muslimah harus mengetahui bahwa orang yang menuntut ilmu adalah orang yang bahagia karena ia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur-an, hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan para Shahabat. Dengannya hati terasa nikmat dan akan membawa kepada kebersihan hati dan kemuliaan.
11. Orang Yang Menuntut Ilmu Akan Dido’akan Oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang-orang yang mendengarkan sabda beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ؛ فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، ثَلَاثُ خِصَالٍ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ ِلِله، وَمُنَاصَحَةُ وُلاَةِ الْأَمْرِ، وَلُزُوْمُ الْـجَمَاعَةِ؛ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ. وَقَالَ: مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ؛ جَمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا؛ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَـمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ.
“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan bersih (dari khianat, dengki dan keberkahan), yaitu melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasihati ulil amri (penguasa), dan berpegang teguh pada jama’ah kaum Muslimin, karena do’a mereka meliputi orang-orang yang berada di belakang mereka.” Beliau bersabda, “Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya.”
Seandainya keutamaan ilmu hanyalah ini saja, tentu sudah cukuplah hal itu untuk menunjukkan kemuliaannya. Sebab, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdo’a bagi orang yang mendengar sabda beliau, lalu memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya. Maka, inilah empat tingkatan ilmu:
Tingkatan pertama dan kedua, yaitu mendengar dan memahaminya. Apabila ia mendengarnya, maka ia pun memahami dengan hatinya. Maksudnya, memikirkan-nya dan menetapkannya di dalam hatinya sebagaimana ditempatkannya sesuatu di dalam wadah yang tidak mungkin bisa keluar darinya. Demikian juga akalnya yang laksana tali kekang unta, sehingga ia tidak lari kesana-kemari. Wadah dan akal itu tidak mempunyai fungsi lain selain untuk menyimpan sesuatu.
Tingkatan ketiga, yaitu komitmen untuk menghafal ilmu agar ilmu tidak hilang.
Tingkatan keempat, yaitu menyampaikan ilmu dan menyebarkannya kepada ummat agar ilmu membuahkan hasilnya, yaitu tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.
Barangsiapa melakukan keempat tingkatan di atas, maka ia masuk dalam do’a Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mencakup keindahan fisik dan psikis. Sesungguhnya kecerahan adalah hasil dari pengaruh iman, kebahagiaan batin, kegembiraan hati dan kesenangannya, kemudian hal itu menampakkan kecerahan, kebahagiaan, dan berseri-serinya wajah. Allah Ta’ala berfirman:
تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ
“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.” [Al-Muthaffifiin: 24]
Jadi, kecerahan dan berseri-serinya wajah seseorang yang mendengar Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu memahami, menghafal, dan menyampaikannya adalah hasil dari kemanisan, kecerahan, dan kebahagiaan di dalam hati dan jiwanya.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan perawi hadits dengan kebaikan dan keelokan wajah, baik di dunia maupun di akhirat. Dikatakan bahwa maknanya adalah Allah Ta’ala menyampaikannya pada kenikmatan Surga.
Perawi hadits yang dido’akan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan keelokan wajah adalah perawi lafazh hadits, meskipun ia belum memahami semua makna hadits. Betapa banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya. Meskipun selamanya ia tidak memiliki pemahaman terhadap hadits. Banyak pembawa fiqih yang tidak memiliki pemahaman (yang memadai).
Ini menunjukkan tentang disyari’atkannya meriwayatkan hadits tanpa (harus) memahaminya (terlebih dahulu). Bahkan hal ini menunjukkan disukainya hal tersebut. Juga menunjukkan bahwa meriwayatkan hadits tanpa pengetahuannya terhadap pemahaman hadits tersebut adalah perbuatan terpuji, tidak tercela. Dengan perbuatan itu, ia berhak mendapatkan do’a Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
12. Menuntut Ilmu Adalah Jihad Di Jalan Allah Dan Orang Yang Menuntut Ilmu Laksana Mujahid Di Jalan Allah            Ta’ala
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ لِيُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْـمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَمَنْ دَخَلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ.
“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, maka ia laksana orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya.”
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah mengatakan, “Jihad melawan hawa nafsu memiliki empat tingkatan:
Pertama: berjihad untuk mempelajari petunjuk (ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar (amal shalih). Seseorang tidak akan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat kecuali dengannya.
Kedua: berjihad untuk mengamalkan ilmu setelah mengetahuinya.
Ketiga: berjihad untuk mendakwahkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya.
Keempat: berjihad untuk sabar dalam berdakwah kepada Allah Ta’ala dan sabar terhadap gangguan manusia. Dia menanggung kesulitan-kesulitan dakwah itu semata-mata karena Allah.
Apabila keempat tingkatan ini telah terpenuhi pada dirinya, maka ia termasuk orang-orang yang Rabbani.
Abu Darda Radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi mencari ilmu tidak termasuk jihad, sungguh, ia kurang akalnya.”
Berjihad dengan hujjah (dalil) dan keterangan didahulukan atas jihad dengan pedang dan tombak. Allah berfirman kepada Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar berjihad dengan Al-Qur-an melawan orang-orang kafir.
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur-an dengan jihad yang besar.” [Al-Furqaan: 52]
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik dengan cara menyampaikan hujjah (dalil dan keterangan).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, “Jihad dengan hujjah (dalil) dan keterangan didahulukan atas jihad dengan pedang dan tombak.”
12. Pahala Ilmu Yang Diajarkan Akan Tetap Mengalir Meskipun Pemiliknya Telah Meninggal Dunia
Disebutkan dalam Shahiih Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ.
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”
Hadits ini adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu serta besarnya buah dari ilmu. Sesungguhnya pahala ilmu tetap diterima oleh orang yang bersangkutan selama ilmunya diamalkan orang lain. Seolah-olah ia tetap hidup dan amalnya tidak terputus. Ini disamping kenangan dan sanjungan yang dialamatkan kepadanya. Tetap mengalirnya pahala untuk dirinya pada saat pahala amal perbuatan telah terputus dari manusia adalah kehidupan kedua baginya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan ketiga hal di atas yang pahalanya tetap diterima oleh si mayit karena ia (si mayit) adalah penyebab keberadaan ketiga hal tersebut. Karena ia menjadi sebab terbentuknya anak shalih, shadaqah jariyah, dan ilmu yang bermanfaat, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya. Seorang hamba mendapatkan pahala karena tindakannya langsung atau tindakan yang dilahirkan (tindakan tidak langsung) darinya. Kedua prinsip ini disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya.
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Yang demikian itu ialah karena mereka (para Mujahidin) tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [At-Taubah: 120]
Kesemua hal di atas lahir dari tindakan mereka dan tidak ditakdirkan bagi mereka. Yang ditakdirkan bagi mereka ialah sebab-sebabnya yang mereka lakukan secara langsung. Maksudnya, bahwa haus, payah, lapar, dan membangkitkan amarah musuh bukanlah karena (sengaja) mereka lakukan demikian, lalu ditulis jadi amal shalih. Akan tetapi, hal ini timbul dari perbuatan mereka (yaitu jihad fi sabilillaah) karena itu ditulis bagi mereka sebagai amal shalih.
13. Dengan Menuntut Ilmu, Kita Akan Berfikir Yang Baik, Benar, Mendapatkan Pemahaman Yang Benar, Dan Dapat Mentadabburi Ayat-Ayat Allah
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullaah mengatakan, “Memikirkan nikmat-nikmat Allah termasuk ibadah yang paling utama.”
Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur-an dengan tadabbur dan tafakkur. Karena hal itu mengumpulkan semua kedudukan orang yang berjalan kepada Allah, keadaan orang-orang yang mengamalkan ilmunya, dan kedudukan orang-orang yang bijaksana. Hal inilah yang mewariskan rasa cinta, rindu, takut, harap, kembali kepada Allah, tawakkal, ridha, penyerahan diri, syukur, sabar dan segala keadaan yang dengannya hati menjadi hidup dan sempurna.
Seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam membaca Al-Qur-an dengan tadabbur, maka ia akan lebih menyibukkan diri dengannya daripada selainnya. Apabila ia melewati ayat yang dibutuhkannya untuk mengobati hatinya, maka ia akan mengulang-ulangnya meskipun sampai seratus kali, walaupun ia menghabiskan satu malam. Membaca Al-Qur-an dengan memikirkan dan memahaminya lebih baik daripada membacanya sampai khatam tanpa mentadabburi dan memahaminya, lebih bermanfaat bagi hati dan lebih membantu untuk memperoleh keimanan dan merasakan manisnya Al-Qur-an. Membaca Al-Qur-an dengan memikirkannya adalah pokok kebaikan hati.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullaah mengatakan, “Al-Qur-an diturunkan untuk diamalkan, maka jadikanlah membacanya sebagai salah satu pengamalannya.”
14. Ilmu Lebih Baik Daripada            Harta
Keutamaan ilmu atas harta dapat diketahui dari beberapa     segi:
Pertama: Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan orang-orang kaya.
Kedua : Ilmu akan menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta menjaga hartanya.
Ketiga : Ilmu adalah penguasa atas harta, sedangkan harta tidak berkuasa atas ilmu.
Keempat: Harta akan habis dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu akan bertambah jika diajarkan.
Kelima: Apabila meninggal dunia, pemilik harta akan berpisah dengan hartanya, sedangkan ilmu akan masuk bersamanya ke dalam kubur.
Keenam: Harta dapat diperoleh orang-orang mukmin maupun kafir, orang baik maupun orang jahat. Sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya dapat diperoleh orang-orang yang beriman.
Ketujuh: Orang yang berilmu dibutuhkan oleh para raja dan selain mereka, sedangkan pemilik harta hanya dibutuhkan oleh orang-orang miskin.
Kedelapan: Jiwa akan mulia dan bersih dengan mengumpulkan ilmu dan berusaha memperolehnya -hal itu termasuk kesempurnaan dan kemuliaannya- sedangkan harta tidak membersihkannya, tidak menyempurnakannya bahkan tidak menambah sifat kemuliaan.
Kesembilan: Harta itu mengajak jiwa kepada bertindak sewenang-wenang dan sombong, sedangkan ilmu mengajaknya untuk rendah hati dan melaksanakan ibadah.
Kesepuluh: Ilmu membawa dan menarik jiwa kepada kebahagiaan yang Allah ciptakan untuknya, sedangkan harta adalah penghalang antara jiwa dengan kebahagiaan tersebut.
Kesebelas: Kekayaan ilmu lebih mulia daripada kekayaan harta karena kekayaan harta berada di luar hakikat manusia, seandainya harta itu musnah dalam satu malam saja, jadilah ia orang yang miskin, sedangkan kekayaan ilmu tidak dikhawatirkan kefakirannya, bahkan ia akan terus bertambah selamanya, pada hakikatnya ia adalah kekayaan yang paling tinggi.
Kedua belas: Mencintai ilmu dan mencarinya adalah pokok segala ketaatan, sedangkan cinta dunia dan harta dan mencarinya adalah pokok segala kesalahan.
Ketiga belas: Nilai orang kaya ada pada hartanya dan nilai orang yang berilmu ada pada ilmunya. Apabila hartanya lenyap, lenyaplah nilainya dan tidak tersisa tanpa nilai, sedangkan orang yang berilmu nilai dirinya tetap langgeng, bahkan nilainya akan terus bertambah.
Keempat belas: Tidaklah satu orang melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala, melainkan dengan ilmu, sedangkan sebagian besar manusia berbuat maksiat kepada Allah lantaran harta mereka.
Kelima belas: Orang yang kaya harta selalu ditemani dengan ketakutan dan kesedihan, ia sedih sebelum mendapatkannya dan merasa takut setelah memperoleh harta, setiap kali hartanya bertambah banyak, bertambah kuat pula rasa takutnya. Sedangkan orang yang kaya ilmu selalu ditemani rasa aman, kebahagiaan, dan kegembiraan.
2.2    Memahami kalimat tauhid
            Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Nya.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Iman itu ada enam puluh atau tujuh puluh cabang lebih, cabang yang paling tinggi (sebagian riwayat dengan redaksi paling luhur atau paling utama), yaitu mengucapkan kalimat Laa Ilaaha IllalLah dan paling rendah, yaitu membuang duri dari jalanan, dan memiliki sifat malu merupakan bagian dari iman."
(HR.    Muslim)

Kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illallah" mempunyai arti dan kedudukan penting dalam Islam. Kalimat ini sebagai tanda pengakuan seorang muslim untuk hanya menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai Robb     (Tuhannya).

Sehingga kalimat ini menjadi sangat penting. Dan sebagai seorang muslim sejati kita wajib terus berupaya keras untuk memahami, meyakini, menanamkannya di hati dan melakukan segala hal yang sejalan dengan kalimat            tauhid.

Kalimat "Laa Ilaaha Illallah" mengandung makna mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya karena Allah Ta'ala, mengesakan Nya dalam beribadah dan arti kalimat ini adalah tiada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalimat ini sangat agung, dengan sebab kalimat inilah para Rasul diutus, kitab-kitab diturunkan dan dalam rangka menegakkan kalimat ini maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berjihad, pedang-pedang terhunus dan kuda-kuda dikendalikan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxEfiIyMMGWiwqA_MZb7P1l1-x1Si8ooLRaiuYCezK51R7ckVef6E3LpOmryzus2P1uP5QtO01B40WfmnRjY_GG_LeOw4oDP_u42rPm5OGtO6EpgLIl-Ke9dk4BFdTnDROSjwiACI2mNJH/s400/Q.jpeg

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat      tinggalmu."

(QS. Muhammad [47] :           19)

Imam ath-Thabari rahimahullah menafsirkan : "Wahai Muhammad, ketahuilah.....bahwa tiada suatu sesembahan pun yang pantas dipuja dan mendapatkan persembahan ibadah darimu dan dari seluruh makhluk kecuali Allah; Dzat Yang Menciptakan semua makhluk dan menguasai segala sesuatu....." (Tafsir ath-Thabari, Maktabah        Syamilah).

Syaikh Abu Bakar al-Jaza'iri mengatakan : "Maka ketahuilah bahwa tidak ada yang berhak menerima ubudiyah kecuali Allah. Oleh sebab itu sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya." (Aisar at-Tafasir, Maktabah            Syamilah)

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah mengatakan : "Makna syahadat adalah tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Laa ilaaha menegaskan penolakan terhadap segala sesuatu yang disembah selain Allah. Sedangkan Illallah menegaskan bahwa ibadah hanya layak ditujukan kepada Allah semata dan tidak ada sekutu bagi Nya dalam hal ibadah kepada Nya, sebagaimana tidak ada yang menjadi sekutu bagi Nya dalam urusan kekuasaan Nya." (Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal.            71)

Sesungguhnya Allah menegaskan dan mendahulukan serta mengutamakan untuk mengetahui dan berilmu tentang At Tauhid. Karena mengenal Tauhid menunjukkan ilmu 'usul (dasar, pokok, dan pondasinya  agama).

Ilmu usul wajib didahulukan atas ilmu furu' (cabang dan aplikasi dari ilmu usul, misalkan beristighfar). Karena dalam kaidahnya "Siapapun yang tidak mengenal penciptanya maka terhalang baginya untuk mentaati dan beribadah kepada Nya dengan baik dan benar."

Allah Subhanahu Wa Ta'ala    berfirman :

"(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha   Besar"

(QS. Al Hajj [22] :      62)

Maknanya adalah, tidak ada yang disembah di langit dan di bumi dengan haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesuatu yang disembah dengan bathil banyak jumlahnya, tapi yang disembah dengan haq hanya Allah            saja.

Menurut Muhammad Said Al Qathani (1994 :30-1 ), kalimat laailaaha illallahu mencakup beberapa pengertian,            yaitu :

• Hanya Allah yang patut disembah ( La Ma'buda Illallah )
• Hukum mutlak bersumber dariNya ( La Hukma Illallah )
• Tiada penguasa mutlak kecuali Allah, Dia lah Robb semesta alam, penguasa dan pengatur ( La Malika Illallah )
• Tiada pencipta kecuali Allah ( La Kholiqo Illallah )
• Tidak ada yang memberikan rizki selain Allah ( La Raziqo Illallah )
• Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali Allah
• Tidak ada yang dapat mendatangkan kemanfaatan dan kemedharatan kecuali Allah
• Tidak ada daya dan upaya kecuali Allah
• Tidak bertawakal kecuali kepada Allah
• Allah sebagai pusat orientasi dan kerinduannya

Jadi dapat dipahami bahwa seluruh pusat orientasi kehidupan seorang muslim adalah Allah. Namun kesaksian yang benar dalam Islam tidak hanya terhenti pada pengucapan lisan dan pembenaran dalam hati, begitu juga tidak hanya memahami maknanya secara benar, tapi harus disertai dengan mengamalkan segala ketentuannya, baik secara lahiriyah maupun bathiniyyah.

Kalimat tauhid ini sekaligus mencakup loyalitas dan bersih diri ( Al wala' wal bara' ) serta negasi dan afirmasi ( Al Nafy wal itsbat ).

Al Wala' dalam kalimat tauhid adalah aspek kepatuhan dan kesetiaan secara tulus (loyal) terhadap Allah, kitab, sunnah dan nabi Nya. Sedangkan Al Bara' adalah bersih diri dari segala kendali thagut dan hukum jahiliyyah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXjRVhiKabE29xzorQbQZ6LyL0EoHjew6xHsYuD1PKL094gw8gd450MKH7pDKuXJ3pBbH6bTYifa6CkUI4atRmNmRtrupkqA7HZXu_-6lVho7mD_lWAC_HqxGXD3zHxsxX4eimuNlgAl2G/s400/a256.png


"Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus."

(QS. Al-Baqarah [2] :  256)

Adapun An Nafiy (peniadaan atau negasi) bermakna meniadakan sesuatu yang menyaingi pengesaan kepada Allah, misalnya sesembahan perantara, tuan, tandingan dan thagut. Dan Itsbat (penetapan, afirmasi) terhadap empat perkara yaitu tujuan akhir (yang kita tuju adalah Allah), kecintaan kepada Allah, takut dan berpengharapan kepada Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah            kepadaku"

(QS. Az-Zukhruf [43] : 26-27)
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_sD_7wo4FxX3UmNhWeT1DXiis8rc_7ts3SqmsdaMsK02zsZ6iP2qkz86HJOwAuxiJiJEemkFd8pHIXK8oTUbV9GIJsnG7GiEzesCDNLmNLmOLsY1EupMWHbbCOHSI4e-LyjC7__aZ7XGF/s400/an-nisa-36.png


"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun."

(QS. An-Nisa` [4] :     36)

Dengan selalu memahami, menghayati, dan mengucapkan kalimat Laa Ilaaha IllalLah dapat menambah iman seorang muslim. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam,

"Perbaharuilah iman kamu sekalian" Sahabat bertanya, "Bagaimana memperbaharui iman kami? " Beliau menjawab, "Perbanyaklah membaca kalimat Laa Ilaaha IllalLah ".
(HR. Ahmad ibn         Hanbal)

**Tambahan**

Thaghut atau thoghut menurut Ibnul Qayyim adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah k), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian).

Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela).

Semoga dengan mengenal Kalimat Tauhid dapat menjauhkan kita dari kemusyrikan. Dan menjadikan tujuan setiap langkah kita hanya karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata.

2.3     Memperbanyak Membaca  Al-Qur’an  dan mentadabburynya.

Pada bulan Ramadhan dapat kita saksikan umat Islam bersemangat dalam memperbanyak amalan-amalan shalih dengan semangat yang tidak kita jumpai semisalnya pada bulan-bulan selain Ramadhan. Di antara amalan yang paling banyak dikerjakan padanya adalah membaca Al Qur`an.

Namun tentunya patut untuk diingat bahwa semangat tanpa didasari ilmu tidaklah membuahkan hasil yang optimal, bahkan bisa jadi tidak membuahkan apa-apa. Orang yang memiliki ilmu lah yang akan meraih hasil yang banyak dari kesempatan yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal pada bulan Ramadhan ini dan pada bulan-bulan selainnya.
Maka berikut kami bawakan terjemahan dari beberapa perkataan ulama tentang perbandingan antara membaca Al Qur`an dengan tartil dan penghayatan, dengan bacaan Al Qur`an dengan cepat untuk memperbanyak mengkhatamkan Al Qur`an. Agar kita bisa memilih mana di antara keduanya yang lebih baik untuk kita amalkan.
Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmy – rahimahullah – pernah ditanya, “Manakah yang lebih afdhal, seseorang membaca Al Qur`an dan mengkhatamkannya beberapa kali, ataukah membacanya dengan perlahan beserta tafsirnya satu kali atau dua kali (khatam) di bulan Ramadhan?”
Maka beliau – rahimahullah – menjawab, “Demi Allah, apabila dia hanya mengkhatamkannya satu kali beserta tafsirnya dan memahami-(makna)nya, lebih baik daripada membacanya dengan cepat seperti         itu.
Abdullah bin Mas’ud ketika seseorang berkata padanya, “Aku telah membaca surat-surat mufasshal semalam.” Al Mufasshal panjangnya empat juz. Dari surat Qaf dan surat-surat yang setelahnya. Maka Abdullah berkata pada orang itu, “Kamu membacanya dengan cepat seperti membaca syair??!” (yaitu beliau mengingkarinya – pen).
Maka seharusnya seseorang membaca Al Qur`an dengan penuh perhatian. Sedangkan apabila dia telah mengerti (maknanya), misalnya sebelum ini dia pernah membaca tafsir dan jelas maknanya baginya, maka yang lebih baik untuknya dia membaca dengan perlahan dan penuh perhatian sambil mengingat kembali tafsir yang pernah dibacanya.”
Ibnul Qayyim – rahimahullah – telah membahas permasalahan ini dalam kitabnya Zadul Ma’ad. Beliau berkata, “Para ulama berselisih, manakah yang lebih afdhal? Antara tartil serta sedikitnya bacaan ataukah cepat dan banyaknya            bacaan?
Di sana ada dua pendapat:
Pendapat Pertama:
Adapun Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas – radhiallahu ‘anhuma – dan yang selain keduanya berpendapat bahwasanya membaca dengan tartil dan tadabbur disertai sedikitnya bacaan lebih afdhal dari bacaan yang cepat lagi   banyak.
Mereka berhujjah :
Bahwa yang diinginkan dari bacaan Al Qur`an adalah memahami maknanya, meresapinya, mengerti kandungannya, dan beramal dengannya. Adapun membaca dan menghafalnya hanya sebagai perantara yang mengantarkan kepada (pemahaman) makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana sebagian salaf berkata: Al Qur`an itu diturunkan untuk diamalkan. Maka mereka merealisasikan bacaan Al Qur`an dalam amalan. Oleh karena itu, Ahlul Qur`an adalah orang-orang yang beramal dengannya, beramal dengan apa yang terkandung padanya walaupun tidak menghafalnya. Sedangkan orang yang menghafalnya namun tidak memahaminya serta tidak beramal dengan apa yang terkandung di dalamnya, tidak termasuk ahlul Qur`an. Walaupun dia meluruskan bacaan huruf-hurufnya sebagaimana seseorang meluruskan anak panah.
Karena iman adalah amalan yang paling afdhal. Sedangkan memahami Al Qur`an dan menghayatinya, itulah yang dapat membuahkan keimanan. Adapun sekedar membaca tanpa pemahaman dan penghayatan, maka itu bisa dilakukan oleh orang baik ataupun jahat, orang beriman ataupun munafiq, sebagaimana Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
( ومثل المنافق الذي يقرأ القران كمثل الريحانة : ريحها طيب ، وطعمها مر)
“Dan permisalan orang munafiq yang membaca Al Qur’an adalah seperti Raihanah (sejenis tumbuhan) baunya harum namun rasanya pahit.”
Manusia dalam permasalahan ini ada empat   tingkatan:
Orang yang memiliki (bacaan/hafalan) Al Qur`an dan keimanan. Merekalah sebaik-baik manusia.
Orang yang tidak memiliki (bacaan/hafalan) Al Qur`an dan tidak memiliki keimanan.
Orang yang diberikan Al Qur’an namun tidak diberikan    keimanan.
Orang yang diberikan keimanan namun tidak diberikan Al Qur`an.
Sebagaimana orang yang diberi keimanan tanpa diberi hafalan Qur`an itu lebih afdhal dibandingkan orang yang diberikan hafalan Qur`an namun tidak diberi keimanan. Maka demikian pula, orang yang diberi penghayatan dan pemahaman dalam membaca (Al Qur`an), lebih afdhal dibandingkan banyak dan cepatnya bacaan (Al Qur`an) tanpa adanya penghayatan.
Ini adalah bimbingan Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dahulu beliau membaca surat dengan tartil sampai (seakan-akan) menjadi lebih panjang dari (surat) yang lebih panjang darinya. Dan juga beliau berdiri (shalat malam) dengan satu ayat sampai datangnya pagi.
Pendapat Kedua:
Adapun murid-murid Al Imam Asy Syafi’i – rahimahullah – (yaitu ulama yang bermadzhab Asy Syafi’i) berpendapat: memperbanyak bacaan lebih afdhal.
Mereka berhujjah        :
. Dengan hadits Ibnu Mas’ud – radhiallahu ‘anhu – dia berkata: Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam –            bersabda:
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Qur`an) maka dia mendapatkan dengannya satu kebaikan, dan kebaikan itu (diganjar) dengan sepuluh kali lipatnya. Dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” terhitung satu huruf, akan tetapi “alif” satu huruf, “lam” satu huruf, dan “mim” satu huruf” diriwayatkan oleh At Tirmidzy dan beliau menshahihkannya.
. Karena Utsman ibnu ‘Affan – radhiyallahu ‘anhu – membaca Al Qur`an (seluruhnya) dalam satu rakaat. Dan mereka juga menyebutkan atsar-atsar dari banyak salaf tentang memperbanyak bacaan Al Qur`an.
DAN YANG BENAR DALAM PERMASALAHAN INI ADALAH:
Bahwa pahala bacaan dengan tartil dan penghayatan itu lebih besar dan lebih tinggi dari sisi nilainya. Sedangkan pahala banyaknya bacaan itu lebih banyak dari sisi jumlahnya.
Adapun yang pertama (yaitu bacaan dengan tartil dan penghayatan): seperti orang yang bersedekah dengan sebuah permata yang amat indah, atau membebaskan seorang budak yang harganya sangat tinggi. Sedangkan yang kedua (yaitu bacaan cepat dan banyak) seperti orang yang bersedekah dengan dirham (uang perak) yang banyak, atau membebaskan beberapa orang budak yang berharga murah.
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari Qatadah, dia berkata, “Aku bertanya pada Anas tentang bacaan Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam –. Maka dia menjawab, “Dahulu beliau memanjangkan bacaannya” (yaitu pada tempat-tempat mad yang memang harus dipanjangkan – pent).
Dan berkata Syu’bah, “Telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah bahwa dia berkata, “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Saya ini adalah orang yang cepat dalam membaca. Bahkan bisa saja aku membaca Al Qur`an sekali atau dua kali dalam semalam.”
Maka Ibnu ‘Abbas menasehatinya, “Kalau saja aku hanya membaca satu surat (dalam semalam) itu lebih aku senangi daripada melakukan hal yang kamu lakukan itu. Apabila kamu harus melakukannya (membaca cepat) maka bacalah dengan bacaan yang dapat didengarkan oleh kedua telingamu dan dimengerti oleh hatimu.”
Berkata Ibrohim, “Pernah ‘Alqamah membacakan (Al Qur`an) kepada Ibnu Mas’ud –dan ia adalah seorang yang merdu suaranya –. Ibnu Mas’ud pun mengarahkan, “Bacalah dengan tartil, – ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Karena tartil itu merupakan hiasan Al Qur`an.”
Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Jangan kalian membaca Al Qur`an dengan cepat sebagaimana membaca syair. Dan jangan menghamburkannya seperti menghamburkan daqol (kurma yang jelek). Berhenti dan pahamilah keajaiban-keajaibannya, kemudian jadikan hati-hati kalian tergerak dengannya. Janganlah keinginan seseorang dari kalian itu hanya untuk mencapai akhir surat.”
Dan beliau pun juga berkata, “Apabila kamu mendengar Allah berfirman يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا maka pusatkan pendengaran kalian padanya. Bisa jadi itu suatu kebaikan yang kamu diperintahkan dengannya, atau suatu kejelekan yang kamu dihindarkan darinya.” ”

2.4     Mentadabury Ciptaan Allah

Tadabbur Alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal ke Maha Besaran Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya.. Allah ta'ala berfirman dalam surat al-ghasiyah:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan (17). Dan langit bagaimana ia ditinggikan? (18). Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (19). Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan (21).
Oleh karena itu, Jika kita menilik alam semesta sebagai sarana pembelajaran dengan melakukan observasi secara langsung maupun tidak dalam rangka mengenal Allah Azza wa Jalla melalui ciptaan-Nya, pastilah kita menjumpai binatang yang satu ini,'Burung'.
Ada apa sih dengan burung?dan kenapa harus 'Burung'?
InsyaAllah, saya akan menjelaskannya.
Waktu itu saya melihat burung yang dengan setianya mencari nafkah untuk keluarganya. Dapat dilihat bahwa, ia belum mempunyai sebuah tujuan tetap dimana ia akan mendapatkan makanan. Tapi, ia mengerti bahwa bumi Allah itu luas dan Allah maha kaya. Terkadang ia pulang membawa makanan dan membagikannya kepada keluarganya. Itu pun jika tidak cukup ia harus berpuasa. Sekali lagi, Demi kelurganya. Disini jelas sekali bahwa eksistensi dari seorang pemimpin adalah mendahulukan kesejahteraan makmum. Tak peduli atas apa yang terjadi akan dirinya. Coba dibayangkan, Pernahkah kita melihat seekor burung dengan tragisnya membentur-benturkan kepalanya di batu cadas karena merasa stress akibat tidak memiliki tempat mencari makan yang sifatnya tetap. Allahu akbar!
Lantas, Bagaimana dengan kita? Manusia?
Ikhwan wa Akhwat Fillah
Sebuah kecenderungan klasik, sepanjang sejarah manusia, bahwa konflik-konflik intelektual yang besar, acapkali terjadi karena adanya pemisahan, sebutlah misalnya , iman yang terpisah dengan rasio. Ketika hati kita mengetahui ke MahaBesaran sang pencipta yang terbentuk dalam sebuah karakter tauhid Rububiyah dalam diri kita atas penciptaan Nya, Kita sudah seharusnya menggunakan 'RASIO' untuk menganalisa dan memahami bahwa penciptaan bumi dan langit beserta isinya merupakan sebuah keteraturan. Adanya sebuah keteraturan itu, tentu melibatkan sang pengatur yaitu Allah Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, Lantas bagaimana Memahami Ayat Allah di Alam ?
Dalam Al Qur'an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.
Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu
"…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imraan, 3:190-191)
Di banyak ayat dalam Al Qur'an, pernyataan seperti, "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?", "terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal," memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An-Nahl, 16:11)
Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.
Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.
Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?
Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An'aam, 6:59).
Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An'aam, 6:95)
Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana", maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT. mari kita mulai mentadaburi alam Allah yang sangat luas ini ,dan dengannya kita tahu kita ini kecil dan tak layak untuk berbuat sombong.
2.5     Membaca kisah-kisah umat terdahulu
         
  Di dalam Al-Qur’an terkandung pokok pembahasan yaitu mengenai aqidah, ibadah, akhlak, janji ancaman serta kisah dan sejarah. Al-Qur’an menganjurkan untuk mempelajari sejarah secara menyeluruh. Tidak hanya mempelajari pertumbuhan dan kemajuannya, tapi juga mampu mengahayati kisah-kisah pada zaman dahulu serta mampu mengambil hikmahnya.
Al-Qur’an banyak berbicara tentang manusia dan bangsa, didalamnya menyebutkan betapa bangsa demi bangsa telah bangkit dan hancur, hanya mereka yang beriman kepada Allah sajalah yang mendapatkan sukses besar. Sedangkan mereka yang tidak beriman kepada Allah dan mengingkari petunjuk-Nya mengalami kehancuran.
Nabi Muhammad SAW telah meletakkan pola baru bagi studi sejarah manusia. Berkat beliau, kisah umat masa lalu itu bukan kisah, juga bukan rekaman cemerlang dari kemajuan yang telah mereka capai, melainkan kisah yang serius dan menyedihkan tentang kegagalan manusia. Amat disayangkan bahwa umat terdahulu tidak pernah mempelajari contoh pelajaran dari kesalahan umat yang mengalami keruntuhan yang ia gantikan.
Seharusnya hal ini menjadi petunjuk yang besar. Menurut hukum Allah, keruntuhan suatu umat terjadi bila ia lalai dalam mempelajari fakta sejarah orang-orang terdahulu dan puing kehancurannya bahkan ia berusaha menggelapkan sejarah itu.
2.      Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian kisah dan sejarah?
b.      Bagaimana hukum-hukum  sejarah dalam Al-Qur’an?
c.       Bagaimana ayat-ayat tentang kisah dan sejarah dalam Al-Qur’an?
d.      Bagaimana tujuan kisah dan sejarah bagi kehidupan manusia?
B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian kisah dan sejarah
Istilah sejarah adalah terjemahan dari kata tarikh (bahasa arab) dan history (bahasa inggris). Semua kata tersebut berasal dari bahasa yunani yaitu istoria yang berarti ilmu. Istoria digunakan untuk penjelasan mengenai gejala-gejala manusia dalam urutan kronologis.
Sedangkan secara terminologi menurut Al-Maqrizi membatasi sejarah ia memberikan informasi tentang sesuatu yang pernah terjadi di dunia.
Definisi sejarah lebih umum adalah semasa lampau manusia, baik yang berhubungan dengan peristiwa politik, sosial, ekonomi, maupun gejala alam. Definisi ini memberi pengertian bahwa sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia W.J.S Poerwadinata mengatakan sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lalu.
2.      Hukum-hukum sejarah dalam Al-Qur’an
Penuturan kisah-kisah dalam Al-Qur’an sarat dengan muatan edukatif bagi manusia, khususnya pembaca dan pendengarnya. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari metode pendidikan yang efektif bagi pembentukan jiwa yang mentauhidkan Allah SWT. Karena itu ditegaskan Allah SWT.
 (QS. Al-A’raf : 176 ) فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون........
            Artinya: Maka kisahkanlah kisah-kisah agar mereka berfikir.

Jika kita telaah secara lebih jauh, kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat muatan kisah-kisah turun saat Nabi Muhammad SAW di kota Makkah (periode Makkiyyah). Seperti dimaklumi, periode tersebut prioritas dakwah Rasulullah lebih banyak diarahkan pada penanaman aqidah tauhid. Hal ini memberikan isyarat bahwa, kisah-kisah sangat berpengaruh bagi upaya untuk mendidik seseorang yang awalnya belum memiliki keyakinan tauhid menjadi hamba Allah yang bertauhid.
Selain itu, pada periode Makkah Nabi Muhammad SAW juga banyak mengadakan upaya penanaman akhlaq al-karimah dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat jahiliyyah yang berperilaku tidak baik. Pemberian contoh kisah-kisah umat terdahulu beserta akibat yang dialami bagi orang yang menentang perintah Allah serta berperilaku tidak baik secara tidak langsung mengetuk hati orang yang merenungkan hikmah di balik kisah tersebut. Kisah menjadi sarana yang lembut untuk merubah kesalahan dan kekufuran suatu komunitas masyarakat, dengan tidak secara langsung menyalahkan atau menggurui mereka.


3.      Ayat-ayat tentang kisah dan sejarah dalam Al-Qur’an
a.    QS at-Thaaha ayat 99
 (QS. At-Thaaha: 99) كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَآءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا
Artinya: Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yang telah lalu, dan sungguh, telah kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi kami.
1)    Tafsir
Pada ayat ini, Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa kisah-kisah  yang diberitakan pada ayat-ayat yang lalu seperti kisah Musa bersama Fir’aun dan Samiri itu, demikian pula kisah nabi-nabi sebelumnya patut menjadi contoh teladan baginya dalam menghadapi kaumnya yang sangat ingkar dan durhaka. Karena memang demikianlah keadaan setiap Rasul walaupun telah diturunkan kepadanya kitab-kitab dan mukjizat-mukjizat untuk menyatakan kebenaran dakwahnya namun kaumnya tetap juga ingkar dan berusaha sekuat tenaga menentang seruannya dan tetap memusuhi bahkan ingin membunuhnya untuk melenyapkannya sehingga tidak terdengar lagi suara kebenaran yang disampaikannya.
Sebagaimana Allah telah menurunkan Kitab Zabur kepada Nabi  Daud as. Taurot kepada Nabi Musa as, dan Injil kepada Nabi Isa as, Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada nabi Muhammmad,  Kitab yang patut mereka terima dengan baik kerena ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya adalah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Al-Qur’an adalah Kitab suci yang lengkap mengandung berbagai pedoman tentang hukum-hukum, pergaulan, ekonomi, akhak dan sebagainya. Selain itu Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi. Tiada seorangpun sanggup menandingi keindahan bahasanya dan ketinggian sastranya. Oleh sebab itu hendaklah nabi bersabar dan jangan sekali-kali berputus asa atau bersedih hati, tetap berjuang sampai tercapai kemenangan dan semua kebatilan lenyap dari muka bumi, tidak ada yang patut di sembah kecuali Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
2)    Munasabah
Pada ayat yang lalu Allah telah menerangkan kisah Nabi Musa as bersama Fir’aun dan Samiri, dua pemimpin yang kafir dan durhaka, ini merupakan pengalaman pahit yang biasa diderita oleh setiap rasul dan orang-orang yang berusaha menegakkan kebenaran dan meninggikan kalimah Allah. Maka pada ayat-ayat ini Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad SAW kisah para nabi sebelumnya sebagai peringatan bagi umat manusia dan hiburan yang bisa melenyapkan kesedihan yang bersemi dalam hati Nabi karena sikap kaumnya yang tetap saja ingkar dan tidak mau menerima petunjuk-petunjuk Allah yang telah disampaikannya, ditambah lagi dengan penganiayaan dan cemoohan yang dilontarkan mereka atas dirinya. Jadi apa yang diderita oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah-Nya telah dirasakan pula oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya.
3)    Asbabul Nuzul
b.    QS ar-Rum ayat 42
(QS. Ar-Rum: 42) قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ
Artinya:  Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”
1)   Tasir
Dalam ayat ini, Allah meminta Nabi Muhammad menyampaikan kepada kaum musyrikin Mekah untuk melakukan perjalanan kemana pun di bumi ini guna menyaksikan bagaimana kehancuran yang dialami umat-umat yang ingkar pada masa lampau. Mereka itu hanya tinggal puing-puing atau nama-nama tanpa bekas. Hal itu, hendaknya dijadikan pelajaran bagi mereka bahwa Allah dapat saja membinasakan mereka, bila tetap kafir.
Perintah itu juga berlaku terhadap siapapun setelah mereka sampai akhir zaman. Bila mereka ragu tentang kebenaran Islam, silahkan mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri puing-puing itu atau meneliti peninggalan-peninggalan sejarah mereka. Umat-umat itu binasa karena keingkaran mereka kepada Allah, dan berbuat onar terhadap sesama manusia dan lingkungan. Kehancuran itu adalah akibat dampak buruk perbuatan mereka sendiri.
2)   Munasabah
Ayat ini bermunasabah dengan surat Ar-Rum: 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Pada ayat yang lalu diterangkan bahwa manusia tetap saja menyekutukan Allah padahal Dialah yang menciptakan, memberi rezeki, mewafatkan dan menghidupkan mereka kembali di akhirat. Karena paham syirik itu, merekapun melakukan perbuatan yang dilarang, seperti memungut riba. Pada ayat-ayat berikut ini diterangkan bahwa kerusakan di darat dan di laut diakibatkan oleh ulah tangan orang-orang musyrik, kafir dan muslim yang tidak sadar bahwa alam semesta adalah juga milik Allah yang harus dijaga dan dipelihara seperti diri sendiri.

3)   Asbabul Nuzul
c.    QS Yusuf ayat 111

1)   Tafsir
2)   Munasabah
3)   Asbabul Nuzul
d.   QS Ali Imran ayat 137
1)   Tafsir
2)   Munasabah
3)   Asbabul Nuzul

4.       Tujuan  kisah bagi kehidupan manusia
Kisah-kisah dalam AlQur’an memiliki maksud dan tujuan yang bisa diambil manfaat dan faidahnya oleh umat Islam khususnya serta seluruh umat manusia pada umumnya. Di antara tujuan dari kisah kisah Al-Qur’an tersebut adalah :
a.                   Penjelasan atas ajaran Tauhid sebagai Platform para Nabi dan Rasul.
Sungguh pun kisah-kisah itu nampak sebagai sebuah cerita masa lalu, namun dalam Al-Qur’an tak pernah terlepas dari upaya memantapkan dan meneguhkan aqidah tauhid yang telah diwahyukan kepada para nabi dan rasul terdahulu. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT. QS.Al-Anbiya’ : 25 :
و َ مَا أَر ْ سَلْنَا مِن قَبْلِك َ مِن رَّ سُول ٍ إِلا َّ نُوح ِ ي إِلَیْھِ أَنَّ ھُ لا َ إِلَھَ إِلا َّ أَنَا فَاع ْ بُدُون ِ   

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul sebelum kamu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Aku, maka sembahlah kalian kepada-Ku”.
 Penjelasan ini sekaligus menguatkan akan mata rantai ajaran tauhid yang dibawa Rasulullah SAW dengan para Nabi dan Rasul Allah yang terdahulu.Dengan demikian, ajaran tauhid merupakan platform yang menjadi ajaran utama para Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam AS hingga Rasulullah SAW. Salah satu faktor yang menjadikan bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad SAW tidak beriman adalah keragu- raguan atas ajaran Nabi yang berbeda dengan para Nabi sebelumnya. Begitu pula keengganan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk mengimani Nabi Muhammad saw juga . Karena itu, kisah-Kisah dalam Al-Qur’an ini bisa menghidupkan memori atas kebenaran para Nabi dan rasul terdahului yang wajib diyakini dan dipercaya sebagai utusan Allah swt. Bahkan dalam kisah-kisah tersebut juga bisa dilihat jejak-jejak yang diringgalkan serta pelajaran yang telah diwariskan mereka.



BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
Aqidah adalah ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan, atau sebuah keyakinan. Keyakinan yang kokoh kepada Allah SWT dimana tidak ada keraguan di dalam dirinya. Yakin bahwa Allah itu Esa/ satu, dan tidak berbuat kafir atau menyekutukan Allah.
Aqidah islam itu sendiri bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunah, bukan dari akal atau pikiran manusia. Akal pikiran itu hanya digunakan untuk memahami apa yang terkandung pada kedua sumber aqidah tersebut yang mana wajib untuk diyakini dan diamalkan.
Atas dasar ini, akidah merzcerminkan sebuah unsur kekuatan yang mampu menciptakan mu'jizat dan merealisasikan kemenangan-kemenangan besar di zaman permulaan Islam.
Keyakinan harus di dasari dengan mengesakan Allah, karena barang siapa yang menyakin adanya Tuhan maka hendaknya harus yakin bahwa Allah itu esa/satu. Seperti di tuangkan pada surat Al Ikhlas bermakna memurnikan ke esaan Allah SWT, diterangkan bahwa kandungan Al-Qur’an ada tiga macam: Tauhid, kisah-kisah dan hukum-hukum. Dan dalam surat ini terkandung sifat-sifat Allah yang merupakan tauhid. Dinamakan surat Al-Ikhlash karena didalamnya terkandung keikhlasan (tauhid) kepada Allah dan dikarenakan membebaskan pembacanya dari syirik (menyekutukan Allah )





DAFTAR PUSTAKA

Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdu! Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425HIAgustus 2004M]
[1]. Lisaanul `Arab (IX/31 1:tj-~) karya tbnu Nlanzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu'jamu! Wasiith (tl/614:tL.3-~).
[2]. Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma' wa Shifat Allah.
[3]. Lihat Buhuuts fii `Aqiidah Ahtis Sunnah wat Jamaa'ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin `Abdul Karim at `Aql, cet. !II Daarul `Ashimah/ th. 1419 H, `Aqiidah Ahiis Sunnah wal Jamaa'ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al­Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah fil `Aqiidah oleh Dr. Nashir bin `Abdul Karim al-`Aql.

[Disalin dari kitab AI-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih AI-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Daru( Haq, Cetakan Rabi'ul Awwa( 1420HIJuni 1999M]